Tafsir Surah Al Quraisy; Para Pengelana Musiman

oleh
Tafsir Surah Al Quraisy
Tafsir Surah Al Quraisy

Surah Al Quraisy merupakan surah ke-29 dari segi urutan turunnya surah-surah dalam Al Quran. Ia turun sebelum surah At Tiin.

Ubay bin Ka’ab, salah seorang sahabat Nabi, menjadikan surah ini bagian dari Surah Al Fiil. Oleh karena itu, dalam Mushaf Ubay bin Ka’ab, Surah Al Quraisy ini tidak diawali dengan basmalah sebagai batas pemisah antara satu surah dengan surah yang lain.

Baca juga Tafsir Surah An Nas dan Surah Al Falaq; Dua Perisai Kehidupan

Bahkan, dalam salah satu riwayat, Umar bin Khattab tatkala Salat Maghrib, pada rakaat pertama beliau membaca surah At Tiin dan pada rakaat kedua membaca surah Al Fil dan Al Quraisy tanpa dipisah dengan basmalah. Tetapi, pendapat yang menyatakan bahwa surah Al Quraisy dan surah Al Fiil itu satu surah ternyata tidak didukung oleh kesepakatan (ijma’) seluruh ulama.

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi yang bersumber dari sahabat Ummu Hani Binti Abi Thalib, Rasulullah Saw menjelaskan tentang keutamaan kaum Quraisy.

“Allah Swt memberikan tujuh keutamaan kepada kabilah Quraisy: (1) Sesungguhnya Aku Berasal Dari Quraisy; (2) Kenabian berasal dari Quraisy; (3) yang memelihara Ka’bah adalah Quraisy; (4) yang memberi air zam-zam (kepada jamaah haji) adalah Quraisy; (5) Allah melindungi Quraisy dari serbuan tentara bergajah; (6) mereka (Quraisy) menyembah Allah selama sepuluh tahun; dan (7) Allah menurunkan satu surah untuk kaum Quraisy. Kemudian Rasulullah Saw membaca surah Al Quraisy.”

Tim Tafsir Salman ITB mencoba membahas surah ini dari sekilas perspektif kesejarahan, dan utamanya perspektif meteorologis/ilmu atmosfer.

Matahari Bergeser, Jalur Berubah

Tafsir Surah Al Quraisy
Tafsir Surah Al Quraisy

قُرَيْش

Quraisy: Suku Quraisy

لِإِيْلٰفِ قُرَيْشٍ ﴿قريش:١

li iilaafi quraiisy

1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,

إِۦلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَآءِ وَالصَّيْفِ ﴿قريش:٢

iilaafihim rihlatasy syitaa-i wash shoiif

2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (1)

فَلْيَعْبُدُوا۟ رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِ ﴿قريش:٣

falya’buduu robba haadzal baiit

3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah).

الَّذِىٓ أَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ وَءَامَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍۭ ﴿قريش:٤

alladzii ath’amahum minjuu’iw wa-aamanahum min khouf

4. Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.

 

Telaah Kebahasaan Tafsir Surah Al Quraisy

Huruf lam yang ada di permulaan ayat memberi pengertian bahwa Allah Swt sengaja membinasakan pasukan bergajah. Tidak lain tujuannya adalah menjamin kelancaran jalur perdagangan kabilah Quraisy, yang telah terbiasa melakukan perjalanan dagang pada musim dingin dan musim panas.

Kata ilaf (ilaafihim) berasal dari kata alifa yang artinya “terbiasa”, “jinak” dan “harmonis”. Imam Al Raghib Al Asfahani berpendapat bahwa kata itu mempunyai arti “keterkumpulan dalam harmonis”.

Lafaz ini juga menggambarkan keharmonisan kabilah Quraisy dalam memelihara Ka’bah, dan sifat ramah tatkala menerima setiap tamu yang berziarah ke sana. Kata Quraisy (Quraisyin) diambil dari kata al-taqarrusy yang artinya “keterhimpunan”.

Kata rihlah (rihlata) terambil dari kata rahala yang artinya “pergi ke tempat yang relatif jauh”. Kata ini menunjuk pada bepergiannya kaum Quraisy ke tempat yang jauh, yaitu pada musim dingin ke Yaman dan pada musim panas ke Syam (sekarang Suriah dan Lebanon).

Selanjutnya pada ayat ke-3, falya’budu adalah kata kerja perintah. Perintah yang dimaksud yaitu perintah kepada kabilah Quraisy untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dengan cara beribadah kepada-Nya.

Ibnu Taimiyyah memberikan definisi ibadah sebagai “Suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang diridai dan dicintai oleh Allah, baik perkataan atau perbuatan baik yang lahir ataupun batin”. Ibadah ini ditujukan kepada Tuhan yang memiliki Ka’bah.

Pada ayat terakhir, Allah menjelaskan bahwa ada dua kenikmatan yang telah diberikan kepada Kabilah Quraisy. Pertama, mencukupi kebutuhan mereka berupa sandang, pangan dan papan. Kedua, menganugerahkan kepada mereka stabilitas keamanan. Dua kenikmatan ini merupakan buah dari doa Nabi Ibrahim a.s. yang diabadikan Allah dalam Surah Al Baqarah (2): 126,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

Tafsir Ilmiah Terdahulu Surah Al Quraisy

Anggota suku Quraisy tadinya berpencar-pencar kemudian menyatu dalam bentuk yang sangat kukuh sehingga mereka dikenal dengan nama itu. Ada yang berpendapat kata quraisy berasal dari kata qarasya yang artinya “berusaha” atau “mencari”.

Ada juga yang berpendapat berasal dari kata qirsy yang artinya ikan hiu. Ikan hiu adalah ikan yang sangat kuat, bahkan mampu menjungkirbalikkan perahu-perahu nelayan di lautan. Kabilah ini dinamai Quraisy karena kekuatan dan berpengaruhnya mereka di kalangan orang-orang Arab.

Tafsir Surah Al Falaq Juga Sudah Bisa Anda Baca di Jogja Post

Ada salah satu kebiasaan orang-orang Arab sebelum terbentuknya Kabilah Quraisy. Apabila mereka menghadpi musim paceklik dan seorang ayah tidak sanggup memberi makan anggota keluarganya, sang ayah akan membawa mereka ke suatu tempat dan di tempat tersebut mereka dibuatkan kemah yang disebut dengan I’tifar sampai mereka meninggal.

Suatu saat ada satu kabilah bernama Bani Makhzum yang tidak sanggup memberi makan anggota keluarganya dan dibawa ke kemah I’tifar. Kejadian tersebut sampai beritanya ke telinga Hasyim bin Abdul Manaf (buyut Nabi Saw.).

Lalu beliau mengumpulkan seluruh anak keluarganya (Bani Hasyim) untuk bergotong royong membantu mereka yang kelaparan. Kemudian, setiap ada kabilah yang kelaparan, maka kabilah Bani Hasyimlah yang membantu mereka. Atas dasar inilah mereka disebut dengan kabilah Quraisy.

Tafsir Ilmiah Salman

Jalur perjalanan kabilah Quraisy adalah salah satu jalur yang berubah berdasarkan perubahan musim. Selain jalur kaum Quraisy, ada dugaan bahwa perubahan musim pulalah yang menyebabkan munculnya Jalur Sutera. Jalur Sutera adalah rute yang membentang dari Yerussalem, Mesir, Asia Selatan sampai ke Cina.

Jalur Sutera sudah membentang selama ribuan tahun jauh sebelum diutusnya Rasulullah Saw. Yang menggunakanya pun bukan hanya bangsa Arab, termasuk kabilah Quraisy, melainkan juga berbagai bangsa di dunia.

Keberadaan Jalur Sutera bukan hanya digunakan untuk perdaganga, melainkan juga untuk penyebaran agama, baik itu Hindu, Budha, Majusi, Yahudi, Nashrani dan Islam. Hanya, belum ada informasi kesejarahan megenai bagaimana pergantian antarmusim tersebut memengaruhi perjalanan perdagangan, khususnya yang melewati Jalur Sutera.

Meski demikian, perubahan rute perjalanan ini dapat ditinjau secara ilmiah, khususnya jika dikaitkan dengan cuaca dan perubahan musim.

Cuaca adalah kondisi atmosfer pada satu waktu yag sifatnya jangka pendek antara 1-3 hari. Misalnya, hari ini cuaca sedang hujan, tetapi besok mungkin cerah. Sementara iklim atau pergantian musim terjadi karena bumi berotasi pada sumbu yang condong 231/2o.

Karena kecondongan tersebut, posisi matahari relative di langit bergeser dari kutub sumbu di utara, ke ekuator, lalu ke kutub sumbu di selatan, lantas kembali lagi ke utara. Pergeseran posisi matahari inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan musim.

Terkait perubahan arah perjalanan dagang kabilah Quraisy, penjelasannya sederhana. Pada bulan Desember, matahari lebih banyak menyinari wilayah selatan bumi sehingga mengalami musim panas. Sementara wilayah utara yang kurang mendapat penyinaran, mengalami musim dingin.

Karena pada saat musim dingin, para pedagang suku Quraisy melakukan perjalanan ke selatan (Yaman) untuk menghindari musim dingin dan mencari tempat yang lebih hangat.

Sebaliknya, pada bulan Juni, matahari lebih banyak menyinari wilayah utara bumi sehingga mengalami musim panas. Sementara wilayah selatan yang kurang mendapat penyinaran, mengalami musim dingin. Karena itu, dengan alasan yang sama seperti pada, para pedagang suku Quraisy melakukan perjalanan ke utara pada saat musim panas.

Perjalanan ini diakukan karena keterbatasan teknologi yang dimiliki manusia saat itu. Namun sekarang, dengan teknologi manusia mampu berdagang di musim dingin, bahkan di segala kondisi cuaca.

Contohnya, perdagangan lewat expo/pameran besar di negara-negara Eropa dan Amerika saat ini justru banyak dilakukan pada musim dingin. Pameran tersebut dilakukan dalam ruangan yang sangat besar dan berpenghangat.

Sebenarnya, Allah Swt. telah menciptakan kondisi iklim di bumi degan sangat sempurna. Siklus cuaca dan iklim telah diatur sedemikian rupa sehingga setimbang. Tidak ada wilayah di bumi yang sangat panas atau sangat dingin sehingga tidak dapat didiami manusia.

Sayangnya, siklus ini mulai terganggu akibat meningkatnya CO2 di atmosfer yang menyebabkan pemanasan global.

Peningkatan jumlah CO2 tersebut tidak lain terjadi karena campur tangan manusia. Itu semua terjadi karena ketamakan. Manusia ingin cepat maju sehingga lupa pada keseimbangan ini. Oleh karena itu, Islam sangat menghargai pohon yang menangkap dan menyimpan CO2 sehingga bahkan dalam perang pun pohon dilarang ditebang.

Kesimpulan Tafsir Surah Al Quraisy

Perubahan rute perjalanan kabilah quraiysy sebenarnya tidak lain karena mencari tempat yang lebih hangat. Pada bulan Desember, wilayah selatan bumi (termasuk Yaman) lebih hangat dibandingkan di utara.

Karena itu, mereka memilih ke sana. Sebaliknya, pada bulan Juni, wilayah utara bumi lebih ahngat dibandingkan di selatan. Sehingga, kaum Quraisy memilih ke Syam yang berada di utara.

Dengan perkembangan sains dan teknologi, manusia mampu mengatasi kendala cuaca dalam beraktivitas, termasuk dalam berdagang. Meskipun demikian, penggunaan sains dan teknologi yang keliru ternyata telah merusak kesetimbangan cuaca yang diatur sedemikian rupa oleh Allah Swt.

Allah Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan; Baca Tafsir Surah Al Ikhlas

Semua ini terjadi karena ketamakan manusia. Islam sendiri sangat peduli pada kesetimbangan dan kelestarian lingkungan. Salah satu wujud konkret kepedulian ini adalah larangan Rasulullah Saw untuk menebang atau merusak pohon, bahkan dalam suasana perang sekalipun.

Waallahu a’lam bisshawab.

Tim Tafsir Salman ITB

 

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta Zamhari

Gambar Gravatar
  Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *