Tuhan Sepertinya Tidak Adil?

oleh
Tuhan Sepertinya Tidak Adil
Pixabay.com

JOGJA POST — Seperti biasa, jendela Malaysia sudah terbuka. Dia mulai membangunkanku; meskipun aku hanya pura-pura tidur. Di pagi itu, rasanya memang sedikit berbeda, agak sumug, badan rasanya hanya ingin mandi saja.

“Hy, good morning!”, sapaku.

“Good Morning!”, jawabnya sambil tersenyum.

“Om mandi dulu ya…”

“Nantilah Om, kita mainan dululah.”

“Okey, mainan apa neh?”

“Bagaimana kalau tebak-tebakan saja?”

“Boleh! Siapa Takut!”

“Siapa Nabi yang dikarunia mukjizat bisa membelah bulan?” tanyaku kepadanya.

“Emm… siapa ya, kurang tahu om”.

“Yah, gimana sih… Dia adalah Nabi Muhammad Saw’.

“Sekarang gantian om, siapa nabi yang bisa membelah lautan?”

“Nabi Musa donk”, jawabku santai.

“Terus, siapa ayah Nabi Muhammad? Siapa Nabi yang mempunyai kesabaran paling tinggi? Siapa Nabi yang menerima kitab Injil? Siapa istri Nabi Muhammad yang banyak haditsnya? Siapa… Siapa… Siapa….”, tanyanya nerocos kepadaku.

Sengaja memang tidak aku jawab semuanya, agar tebak-tebakkannya semakin seru plus sebenarnya aku juga agak-agak lupa :D. Di tengah permainan tebak-tebakan itu, tiba-tiba ada sebuah pertanyaan datang mengagetkanku.

“Om, sepertinya Tuhan tidak adil?”.

“Lho, why?”.

Suasananya pun menjadi hening seketika. Di saat itu, aku mencoba menjelaskan kepadanya.

“Allah memang sepertinya tidak adil. Namun sebenarnya Dia adil seadil-adilnya. Dia Allah adil sebelum kita lahir, bahkan sebelum kita ada. Dia Allah adil selama-lamanya.

Milyaran pesaing yang diciptakan, Allah pilih kita untuk lahir di dunia. Semua lengkap; free tanpa DP dan tanpa cicilan. Hidung, mata telinga, dan anggota tubuh lainnya.”

“So, what’s your problem?” tanyaku semakin penasaran.

Bagai petir di siang bolong, tiba-tiba dia kembali mengajukan pertanyaan yang membuatku terhentak.

“Mengapa Allah memanggil ayahku terlebih dahulu?” tanyanya.

Suasanya pun kembali hening, aku bingung mau bilang apa. Sambil berpikir, aku mulai sedikit bercanda.

“Wah, pertanyaanmu mirip di sinetron-sinetron ya? Ha…Ha…Ha…”

Kami pun tertawa bersama-sama, niat bercanda agar aku mempunyai waktu sedikit untuk menyusun kata-kata; memberikan jawaban yang tepat.

Seketika itu, aku pun menjelaskan kepadanya.

“Ada banyak yang tidak kita ketahui di kehidupan ini. Salah satunya adalah kembali. Setiap orang sudah diberikan jatah masing-masing untuk mencari bekal yang sebenarnya. Dan kita tahu bahwa ayahmu telah menghabiskan jatah hidup dengan sebaik-baiknya.

Dia menjadi ayah teladan, menjadi suami, teman dan saudara yang baik. Bila dia kembali, itu berarti Allah rindu kepadanya. Allah lebih sayang kepadanya. Ayahmu kembali kepada kebahagiaan yang kekal dan tiada bandingannya di dunia.

Dialah Allah sumber kebahagiaan. Dzat yang hanya Dialah kita semua akan kembali. So, bila seseorang kembali kepada Tuhan-Nya, itu berarti dia sedang menuju ke arah kebahagiaan yang sebenarnya.

Biidznillah, ayahmu sudah berada di dalam rizki terbaik-Nya, tempat yang memiliki ketentraman di setiap penjuru arah.”

“Tapi om…”,

Dia mencoba memutus penjelasanku, namun aku tak mau kalah. Aku teruskan penjelasanku.

“Bila kamu masih berpikir bahwa Tuhan tidak adil, maka akan lebih banyak orang yang mengatakan Tuhan tidak adil. Kenyataannya, meskipun mereka miskin, susah, nelangsa, mereka lebih bijak dalam memandang hidup.

Misalnya, ada seorang anak yang lahir; yang tidak sempat melihat ayahnya. Ada juga anak yang lahir, namun ayahnya malah membuangnya. Di sini, kamu seharusnya lebih bersyukur sebab kamu diberikan seorang ayah yang baik oleh Allah.”

“Emm… makasih ya om,” begitu jawaban singkatnya.

Matanya terlihat bahagia, aku tak tahu apa yang dirasakannya. Aku hanya berharap, semoga Gusti Ingkang Maha Kuwaos memberikan sinar cerah di hatinya.

“Yang terpenting untuk saat ini, banyak-banyakin doa, because …. di setiap kehidupan tidak ada yang namanya perpisahan. Bila saat ini ada di antara kita yang pisah, itu hanya pisah raganya. Kita masih bisa berdoa agar nantinya dibersamakan lagi. Raga bole berpisah, namun hati? No No No….”.

 

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta Zamhari

Gambar Gravatar
  Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *