Cara Saya Belajar Bahasa Jawa Halus

oleh

Belajar Bahasa Jawa HalusBelajar Bahasa Jawa Halus

Bahasa Jawa sebetulnya adalah bahasa ibu yang pertama kali saya pelajari dari kecil disamping bahasa Indonesia. Jadi sudah cukup lama saya memakai bahasa ini sebagai bahasa pergaulan dan sehari-hari. Namun bukan berarti meskipun saya sudah mempelajarinya lama, bahasa Jawa saya bagus. Kenyataannya saya masih harus belajar seperti yang lain.

Seperti yang kita tahu, bahasa Jawa itu sebetulnya memiliki sejumlah kesulitan yang bisa dikatakan lumayan susah untuk dipahami. Misalnya bahasa Jawa ini punya tingkatan penyebutan, penyebut dan pembilang angka yang “unik” dan sederet istilah penggunaan yang berbeda meskipun kelihatannya sama. Hal-hal semacam inilah yang membuat saya harus belajar lagi meskipun bahasa Jawa adalah bahasa ibu saya.

Selain itu bahasa Jawa, utamanya di tingkat tinggi (Kromo Inggil) memiliki tingkat kesulitan tersendiri dikarenakan tidak semua kata-katanya bisa diambil dari tingkatan dibawahnya (Ngoko). Itulah sederet alasan mengapa seolah bahasa Jawa ini menyumbang banyak sekali kesulitan. Namun disisi lain bahasa ini justru banyak dipelajari lantaran kesulitannya itu.

Cara Saya Belajar Bahasa Jawa

Karena kesulitan yang sangat bervariasi itulah saya mempelajari bahasa Jawa dengan prioritas kemampuan tertentu untuk menegejarnya. Tentu saja cara yang saya gunakan di bawah ini cenderung non-formal, meskipun ada juga yang formal. Namun cara yang saya gunakan ini pada dasarnya dapat digunakan siapapun. Berikut cara saya belajar bahasa Jawa baik secara formal maupun non-formal:

  1. Membedakan Kata Kromo Inggil dan Ngoko

Satu hal jika saya belajar bahasa Jawa adalah menemukan kata yang tepat ketika berbicara dengan orang lain. Masalahnya adalah dalam bahasa Jawa, anda harus membedakan bahasa yang digunakan apakah dengan teman kita, orang tua ataupun tetangga. Saya harus auto-paham seperti apa seluk beluk kata yang digunakan, tepat tidaknya dan berguna dalam hal apa. Pada titik inilah pentingnya membicarakan tingkatan kata dalam bahasa Jawa.

Bahasa Jawa adalah bahasa yang memiliki “kasta penyebutan”. Bahasa ini memiliki empat tingkatan yang terbagi atas Ngoko dan Kromo yang secara umum berarti bahasa yang kasar dengan yang halus. Itupun keduanya masih dibagi lagi masing-masing menjadi dua, Ngoko, Ngoko Alus, Kromo Madyo dan Kromo Inggil. Misalnya, untuk menyebut diri sendiri dengan teman, saya menggunakan istilah aku. Namun beda halnya ketika saya berbicara dengan orang tua sendiri maupun orang lain, saya menggunakan kulo yang merupakan termasuk kata dalam tingkatan Kromo Inggil.

Begitu juga ketika saya hendak menyebut orang lain. Saya harus memastikan siapa yang saya hadapi. Ketika dengan teman, saya biasanya menyebutnya dengan panggilan kwe. Namun untuk orang yang lebih tua seperti kakak, saya biasanya memakai kata jenengan atau sampeyan (khusus kata yang ini, juga saya pakai dengan orang yang lebih muda dari saya) yang sebetulnya masih dalam kategori Kromo Madyo. Beda lagi kalau sudah menyebut orang tua, saya biasanya menyebut dengan sebutan panjenengan dalam tingkatan Kromo Inggil.

  1. Berlatih Angka

Selain karena sulit, angka dalam bahasa Jawa memiliki variasi yang juga terdiri atas tingkatan Ngoko dan Kromo tadi. Itu belum termasuk beberapa angka yang mengalami perubahan yang mungkin bisa membuat alis mata kebingungan. Itulah mengapa saya termasuk mengutamakan untuk belajar angka dalam bahasa Jawa.

Hal ini sebetulnya sudah banyak dibahas dalam forum-forum penggunaan bahasa Jawa yang baku. Pengucapan angka dalam bahasa Jawa bisa dibilang memiliki tingkat kerumitannya sendiri yang justru membuat bahasa ini menarik untuk dipelajari. Bilangan angka dalam bahasa Jawa seperti siji, loro, telu dan seterusnya akan terlihat berbeda ketika pengucapan kromo yang terdiri atas setunggal, kalih, tigo, sekawan, gangsal. Namun setelahnya sama dengan bahasa ngoko kecuali pada angka kesepuluh, yaitu sedoso.

Itu saja sudah membuat saya pusing, belum lagi angka yang lebih tinggi dari angka 10 sampai 100. Belajar dari yang paling sulit dalam beberapa hal lebih dibutuhkan dikarenakan pemahaman kalian tidak hanya bertambah, namun juga dalam.

  1. Mengamati Kata yang Susah Diucapkan

Saya meskipun lahir dan besar di Yogyakarta, masih sering menemui orang-orang yang bahasa Jawanya lebih baik ketimbang saya. Bahkan dalam beberapa hal saya ketinggalan jauh dari orang tua ketika mengucapkan satu dua kata bahasa kromo yang susah untuk dicerna. Misalnya atawisipun, badhekatur atau bahkan kata yang sering didengar namun susah untuk diartikan, rahayu. Kata-kata semacam ini biasanya hanya bisa ditemui di acara resmi macam pernikahan atau sambutan menggunakan bahasa Jawa kromo

Nah kalau sudah begini saya biasanya meminta bantuan orang tua saya untuk memahamkan diri sendiri tentang kata-kata itu. Karena biasanya orang tua lebih paham mengenai kata-kata tersebut beserta dengan arti dan konteks maknanya. Jika terpaksa harus membuka kamus, saya biasanya membuka kamus online Maknaa yang sangat fleksibel. Susah jika tidak dipelajari, namun lebih susah lagi kalau kita tidak tahu maknanya.

  1. Mencari Konco untuk Menunjukkan Kesalahan Sendiri

Nah kalau yang satu ini baru cara efektif yang saya lakukan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Bukan berarti kita bisa bahasa Jawa dari lahir terus bisa dikatakan mahir ya? Kita pun tetap harus ada yang mengoreksi. Terlebih kalau kita tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang di beberapa daerah itu bermasalah.

Misalnya paling gampang adalah kalau menyebut anjing, ada tiga sebutan kata yang digunakan dalam bahasa Jawa yaitu asu, kirek (Ngoko Kasar dan Ngoko Alus) dan segawon (Kromo). Jika anda tinggal di Yogyakarta atau Jawa Tengah, kata kirek adalah yang paling umum digunakan. Sementara di Jawa Timur kata asu termasuk justru lebih jamak lumrah digunakan. Masalahnya adalah jika anda mengucap asu dalam konteks bahasa Jawa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, itu bisa jadi kasar sekali. Pasalnya asu merupakan bentuk kata Ngoko yang paling rendah. Lebih sering digunakan untuk mengumpat lawan bicara dan dalam beberapa hal kurang “berperadaban”.

Nah kalau ada teman untuk diajak berbicara itu selain dapat meningkatkan kelancaran berbahasa, juga untuk mengoreksi apa yang salah dari bahasa yang kita gunakan seperti contoh di atas. Kalau ada kesalahan bisa langsung tahu apa yang harus diperbaiki. Tapi cari teman yang baik juga ya, kalau teman kita terbiasa misuh ya cara ini agak kurang berguna.

  1. Sering Mendengarkan Tembang atau Lagu Jawa

Jika belakangan anda suka atau pernah mendengarkan lagu Jawa dalam bentuk Hip Hop, artinya anda tidak sendirian. Belakangan lagu yang mencampurkan unsur campur sari ke dalam aliran musik negeri Paman Sam itu sudah menjamur cukup lama. Semakin waktu agaknya semakin berkembang di daerah-daerah berbahasa Jawa dan mulai menggunakan dialek lokal supaya menarik untuk didengar.

Meskipun sebenarnya temanya kebanyakan mengenai percintaan dan ambyar macam Didi Kempot, tapi bukan berarti bahasa Jawa yang dipakai buruk. Justru saya terkadang menemukan satu dua kata dalam bahasa Jawa yang belum dikenal sebelumnya. Cukup bagus untuk belajar bahasa ini utamanya bagi yang ingin tahu dasar-dasarnya secara sederhana. Asal jangan ikut-ikutan ambyar saja.

Namun patut diketahui, sebetulnya bahasa yang digunakan dalam lagu-lagu tersebut adalah bahasa Jawa Ngoko. Itulah mengapa lebih cocok untuk yang ingin tahu dasar-dasar bahasa Jawa. Jika anda ingin mengetahui bahasa Jawa Kromo, saya biasanya menyetel lagu tembang Jawa yang sering diputar di radio dengan tema kebudayaan, pagelaran, seni tari kethoprak atau semacamnya yang kebanyakan dinyanyikan oleh para sinden.

  1. Mendengarkan Pidato

Saya kebetulan kalau ada acara hajatan, pengajian dan acara formal sering mengamati apa saja yang diperbincangkan dalam pidatonya. Terutama kalau pembicaranya memakai bahasa Jawa, sudah pasti mereka akan melakukannya dengan bahasa Kromo. Ini dikarenakan bahasa Jawa Kromo sebetulnya merupakan bahasa resmi acara-acara formal, sehingga pasti wajib dipraktekkan di acara resmi.

Sebenarnya di Youtube saat ini banyak tersedia bentuk-bentuk pidato dalam bahasa Jawa yang bisa diunduh secara praktis. Meskipun jujur lebih suka lihat langsung, namun solusi ini tidak boleh dikesampingkan mengingat sama bergunanya. Mengamati setiap isi materi dalam bahasa Jawa membuat saya bisa menambah kosakata yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Hal ini berguna nantinya sebagai pondasi berbahasa Jawa kita utamanya bahasa Kromo yang dikenal lebih sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *