Mengenal Beberapa Varian Virus Covid-19, Alpha, Beta, Delta dan Gamma

oleh

Varian “Mengkhawatirkan” Virus Covid-19

Mengenal Beberapa Varian Virus Covid-19 (Gambar: Pixabay/fernandozhiminaicela)

Mutasi genetik yang terjadi pada virus SARS-COV-2 atau Covid-19 kian hari semakin banyak diperbincangkan baik dalam forum kesehatan sampai di masyarakat. Banyaknya varian yang susah untuk dipahami serta kesalahpahaman penyebutan sering terjadi karena masalah ini.

Untuk menyederhanakan masalah tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperkenalkan penyebutan varian mutasi genetik menggunakan alphabet Yunani. Penamaan ini berdasarkan variant of interest maupun variant of concern dari virus Covid-19. Beberapa varian tersebut adalah varian Alpha, Beta, Delta dan Gamma. Mengenal beberapa varian virus Covid-19 ini mungkin bisa mempermudah anda memahami bagaimana pengaruhnya sebuah mutasi genetik dari virus tersebut

Mengenal Beberapa Varian “Mengkhawatirkan” Virus Covid-19

Di Indonesia sendiri, menurut data dari Kementerian Kesehatan (21/6/21) ada tiga varian “mengkhawatirkan” yang sudah masuk di Indonesia. Ketiga varian yang sudah masuk Indonesia yaitu varian Alpha, Beta dan Delta. Sementara itu varian of concern seperti Gamma dan Epsilon belum terdapat data pasti mengenai penyebarannya di Indonesia. Untuk itulah kami mencoba mengeksplorasi dan mengenal beberapa varian virus Covid-19. Berikut beberapa varian yang dicap “mengkhawatirkan” dari virus Covid-19 yang berhasil kami himpun dari berbagai sumber:

  1. Varian Alpha

Varian ini lebih dikenal dengan varian B.1.1.7. atau tadinya bernama varian Inggris. Mutasi varian ini dinyatakan sebagai variant of concern oleh WHO pada bulan Desember 2020 berkaitan dengan peningkatan kasus disana.

Sampai pada bulan April 2021, varian ini masih menjadi yang dominan di Inggris Raya sebelum kedatangan varian Delta. Menurut data dari Center of Disease Control of Prevention (CDC), varian ini lebih menular 50% dari varian lainnya. Dikutip dari Science News (19/4/21), varian ini telah menyebar dan sempat mendominasi kasus di Amerika Serikat pada bulan Maret 2021.

Menurut data yang dihumpun oleh Science News (19/4/21), varian ini sempat dikhawatirkan lebih mematikan daripada varian lainnya. Namun belakangan hal tersebut dibantah oleh otoritas penelitian di Amerika Serikat. Menurut CDC, varian ini yang jelas berkontribusi pada tingkat penyebaran dan fatalitas kasus.

Selain dikenal mudah menyebar, varian ini juga disebut-sebut sebagai varian yang dapat menurunkan efikasi vaksin. Namun hal tersebut dibantah oleh penelitian yang dipublikasikan oleh Lancet Public Health pada tanggal 12 April 2021. Varian ini masih bisa ditangani oleh vaksin yang tersedia seperti Pfizer dan AstraZeneca di Inggris khususnya.

  1. Varian Beta

Selain varian Alpha yang disinyalir dapat menurunkan efikasi vaksin, varian ini adalah yang menjadi perhatian para peneliti. Varian ini tadinya dikenal dengan varian Afrika Selatan yang muncul sekitar bulan Juli 2020.

Berdasarkan data CDC, varian ini merupakan salah satu varian yang juga penyebarannya masif sebesar 50%. Varian ini sempat dikhawatirkan oleh para peneliti lantaran varian ini tidak mudah dideteksi oleh alat uji tes. Ada tiga mutasi yang terjadi dalam virus ini, yaitu mutasi K417N, E484K dan N501Y. Mutasi inilah yang memungkinkan kemampuan reseptor untuk tidak dapat dideteksi alat uji, terutama mutasi asam amino E484K yang dikhawatirkan banyak peneliti.

Varian ini juga menjadi yang terdepan dalam kasusnya baik di Afrika Selatan, Inggris dan Australia pada sekitar bulan Desember 2020 sampai dengan Februari 2021. Persebarannya juga sama dengan varian Alpha, mencakup hampir di seluruh negara di dunia. Di Indonesia sendiri, varian ini untungnya tidaklah mendominasi meskipun telah terdeteksi masuk sekitar bulan Januari 2021.

Meskipun varian ini berpengaruh pada efikasi vaksin, namun sejauh ini belum dilaporkan adanya vaksin yang gagal mendeteksi varian ini. Vaksin Johnson & Johnson, Pfizer maupun AstraZeneca sudah merilis data penelitian mengenai efikasi vaksin terhadap varian Beta ini. Ketiga vaksin tersebut menurut data mereka, menyebutkan bahwa vaksin mereka memberikan perlindungan minimal bagi penggunanya.

  1. Varian Delta

Mutasi varian ini merupakan salah satu dari tiga varian turunan dari mutasi genetik B 1.167, yaitu mutasi B.1.167.2. Varian mutasi inilah yang lalu oleh WHO dinyatakan sebagai varian yang dinamai dengan alphabet Yunani, Delta.

Berdasarkan Science Alert (21/6/21), varian ini pertama kali muncul di India pada sekitar akhir bulan Desember 2020. Varian yang tadinya bernama varian India ini telah dimasukkan ke dalam kategori variant of concern oleh WHO. Menurut data CDC, varian ini memiliki potensi untuk dapat menyebar lebih mudah ketimbang varian lainnya. Menurut data dari Science Alert (19/6/21), varian mutasi ini memiliki kemampuan penyebaran 40-60% lebih tinggi ketimbang varian Alpha (B.1.1.7).

Varian ini disinyalir bertanggung-jawab terhadap meledaknya kasus Covid-19 di India pada bulan April-Mei 2021 lalu. Sejauh ini varian ini dilaporkan telah menyebar ke 74 negara berbeda dan varian ini mulai mendominasi. Saat ini varian ini juga dominan di Inggris sebesar 90% dari jumlah kasus Covid-19 disana. Sedangkan di Indonesia, disinyalir bahwa varian ini ditemui di Jawa Tengah, khususnya kota Kudus, Jawa Tengah. Menurut data Kemenkes dan FKK UGM, varian ini menyebar di Kudus, Jawa Tengah sebesar 82% setelah lebaran lalu.

Sejauh ini belum ada data pasti mengenai pengaruh varian Delta ini terhadap efikasi vaksin. Namun, menurut data dari Inggris menyebutkan bahwa vaksin AstraZeneca dan Pfizer mampu melindungi pasien dari varian Delta ini. Efikasi perlindungan dari varian ini dari kedua vaksin tersebut masing-masing sebesar 92% dan 94%.

  1. Varian Gamma

Nama lain varian mutasi ini adalah varian P.1 atau B.1.1.28.1 yang tadinya diklasifikasikan sebagai varian Brazil. Dikutip dari CNN (21/1/21), Varian ini memang terdeteksi disana, tepatnya di kota Manaus pada bulan Januari 2021.

Tidak seperti ketiga varian yang sebelumnya, varian ini menyebar lebih luas hanya di kawasan negara-negara Amerika Latin. Negara seperti Brazil, Peru dan Chile telah melaporkan adanya varian ini sejak awal tahun 2021. Varian ini juga telah masuk ke Jepang ketika beberapa warganya dilaporkan tertular varian ini ketika melakukan perjalanan dari Brazil.

Varian ini jugalah yang bertanggung-jawab pada separuh lebih penyebaran kasus Covid-19 di negara Tari Samba tersebut. Selain Jepang, India dan Australia juga sudah melaporkan adanya varian ini di negara mereka.

Mutasi genetik yang terjadi dalam virus ini ternyata hampir serupa dengan varian Beta, yaitu salah satunya mutasi asam amino E484K. Meskipun begitu, kedua varian ini (Beta dan Gamma) tidak saling terkait satu sama lainnya.

Itulah mengapa varian ini termasuk salah satu dari empat variant of concern yang ditetapkan oleh WHO. Menurut data CDC, mutasi tersebut dapat menyebabkan penurunan efikasi vaksin yang digunakan. Namun belum terdapat data mengenai tingkat keparahan yang diakibatkan oleh mutasi varian ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.