Penganut Teori Konspirasi Memiliki Kemampuan Kritik yang Rendah, Tapi…

oleh

Penganut Teori Konspirasi

Illuminati, Salah Satu Topik Populer Bagi Penganut Teori Konspirasi (Gambar: Pixabay/Knollzw)

Teori Konspirasi merupakan teori yang secara umum berbicara mengenai kekuatan tersembunyi sistematik yang digambarkan “mengancam” perdamaian. Namun tak jarang teori ini justru digunakan penganutnya untuk mendiskreditkan orang yang dibenci dan berpengaruh.

Di Indonesia sendiri, beberapa nama penganut teori konspirasi ini melejit namanya via media sosial. Beberapa diantaranya justru menjadi microcelebrity yang seolah-olah tahu segala isi dunia beserta kepentingan-kepentingan yang dinarasikannya. Sayangnya, fenomena ini menjadi “endemik” di seluruh dunia.

Bahkan di tengah pandemi Covid-19 mereka yang menganut teori ini menanganggap pandemi ini hanya isapan jempol belaka. Sangat sering kita temui banyak dari mereka yang tidak percaya dengan adanya virus Covid-19 meskipun sudah setahun lebih berlalu. Ironisnya yang percaya teori ini juga ada dari kalangan berpendidikan tinggi, membuat informasi semakin runyam untuk dicerna.

Tak jarang mereka penganut teori konspirasi ini mendaku dirinya sebagai “pemikir bebas” dan mengklaim dirinya bebas dari segala kepentingan.

Hubungan Antara Kemampuan Kritik Rendah dengan Teori Konspirasi

Namun, studi terbaru ini bisa membantah klaim tersebut. Peneliti dari Paris Nanterre University justru menemukan bahwa adanya hubungan antara kemampuan kritik yang rendah dengan bertambahnya kepercayaan terhadap teori konspirasi.

Kesimpulan tersebut tertuang dalam penelitian berjudul “Maybe a Free Thinker But Not a Critical One: High Conspiracy Believe is Associated With Low Critical Thinking Ability”. Penelitian ini dupublikasikan dalam jurnal Applied Cognitive Psychology.

Studi ini melibatkan 338 mahasiswa jenjang strata satu di Perancis dengan menggunakan Tes Esai Berpikir Kritis model Ennis-Weir. Mereka kemudian diminta untuk memberikan skor terhadap esai tersebut untuk melihat kecenderungan kepercayaan konspiratif dan kemampuan mereka dalam memberikan kritik.

Teori konspirasi dengan kemampuan mengkritik pada dasarnya adalah dua hal yang berbeda. Dalam penelitian ini, Anthony Lantian, psikolog dari Paris Nanterre University dan timnya menjelaskan perbedaan defenisi keduanya.

“Teori konspirasi lebih kepada percobaan untuk menjelaskan tujuan terjadinya suatu kejadian (baik politik, sosial, perubahan iklim dan sebagainya) dengan menuduh koalisi tersembunyi dari prasangka jahat dan organisasi orang-orang kuat yang memiliki misi rahasia dan mengimplementasikan kejadian tersebut,” jelas Anthony Lantian dalam penelitiannya.

“Berpikir kritis, adalah menganalisis secara objektif dan mengevaluasi situasi yang mewajibkan penggunaan keahlian kognitif. Kemampuan kognitif dalam hal ini adalah mampu informasi yang benar dan salah, berpikir secara sistematis, melihat perspektif lain, mengakui dan menghindari logika yang salah, melihat kesulitan sesungguhnya, berhati-hati dan menghindari bias dan mengubah pemikiran pada bukti yang mencerahkan.” Tambahnya seperti dikutip dari Science Alert (11/7/21).

Hasilnya menurut penelitian tersebut, orang yang merupakan penganut teori konspirasi memiliki kemampuan kritik yang buruk. “Banyak orang yang percaya pada teori konspirasi, buruk dalam performa mereka terhadap tes kemampuan berpikir kritis,” ujar Lantian.

(Tapi) Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Belajar

Mungkin penelitian ini sedikit mengandung bias, mengingat sangat dimungkinkan bahwa penganut teori konspirasi mendapatkan akses ilmu pengetahuan yang berbeda. Penelitian ini juga bukan merupakan ukuran bahwa penganut teori konspirasi memiliki keccerdasan yang rendah. Namun pada dasarnya berpikir kritis bisa dilatih dan dipelajari.

Hal ini dikarenakan peneliti tidak menemukan adanya perbedaan dalam hal tingkat tinggi dan rendahnya seseorang dalam kritik subjektif. Dalam beberapa hal tidak ada perbedaan keduanya, sehingga memungkinkan seseorang dengan tingkat kekritisan tinggi terjebak dalam pemikiran yang sama.

Singkatnya penelitian ini bisa menjawab mengapa seseorang yang memiliki pendidikan tinggi juga bisa terjebak dalam teori konspirasi.

“Berpikir kritis dapat membantu individu dalam mencari bukti yang kontradiktif daripada mempercayai teori konspirasi secara membabi-buta selama itu menantang dalam sebuah versi yang mapan,” kata Lantian.

 

Sumber: Science Alert

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.