Tafsir Surah Al Ikhlas; Tentang Asal-usul Nama Allah

oleh
Tafsir Surah Al Ikhlas; Tentang Asal-usul Nama Allah
Pixabay.com

JOGJA POST — Sebelumnya, kami juga telah menyalin Tafsir Surah Al Falaq yang sangat disayangkan bila Anda lewatkan. Kini, dengan semangat rasa syukur, kami juga akan menyalin tulisan tentang Tafsir Surah Al Ikhlas.

Surah Al Ikhlas, yang dalam Mushaf Usmani merupakan surah ke-112, adalah surah yang diwahyukan pada awal masa kenabian (kategori Makkiyah, urutan ke-22). Hanya terdiri dari 4 ayat, surah yang pendek ini bernilai sulus Al Quran (sepertiga Al Quran) sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Saw sendiri.

Hanya ada dua surah dalam Al Quran yang judul atau namanya justru  sama sekali tidak disebutkan di dalam surahnya. Kedua surah tersebut adalah Al Fatihah (surah pertama) dan Al Ikhlas (surah ke -112). Selain keunikan tersebut, surah Al Ikhlas mengandung pandangan Islam tentang ketuhanan, yaitu tauhid yang juga unik atau berbeda dibandingkan agama-agama lain.

Asbab al nuzul dari surah Al Ikhlas ini digambarkan dalam kitab Asbab Al Nuzul Li Al Wahidi Al Naisaburi. Menurut Imam Qatadah, Dahak dan Muqatil, suatu ketika orang Yahudi mendatangi Rasulullah Saw mereka bertanya,

“Terangkan kepada kami wujud Tuhan-mu, karena di dalam Taurat Dia hanya menerangkan sifat-Nya. Jelaskan kepada kami terbuat dari apa Dia? Dari jenis apa? Apakah dari emas atau perak? Apakah Dia makan dan minum? Dari siapa Dia mewarisi dunia dan kepada siapa Dia mewariskannya?” Lalu turunlah surah Al Ikhlas yang khusus dinisbatkan kepada Allah.

Dalam penjelasan lain pada kitab tafsir Ibnu Katsir, melalui riwayat Imam Ahmad, bahwa kaum musyrik datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya kepada beliau, “Terangkan kepada kami bagaimana wujud Tuhanmu?” Lalu turunlah surah Al Ikhlas untuk menjawab pertanyaan mereka.

Masih banyak lagi riwayat asbab al nuzul surah ini, yang secara redaksional hampir sama. Intinya berkisar pertanyaan orang-orang musyrik akan wujud Tuhannya Muhammad Saw.

Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB mengupas surah ini dari perspektif kesejarahan dan fisika benda padat.

Antara Allah dan Ilah

Surah Al Ikhlas
Surah Al Ikhlas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾

اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

Qul huwa allaahu ahad(un),

allaahu alshshamad(u),

lam yalid walam yuulad(u),

walam yakullahu kufuwan ahad(un).

Artinya: 
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Telaah Kebahasaan

Ayat pertama diawali dengan kata kerja perintah atau fi’il amar yaitu qul. Hal ini merupakan perintah kepada Rasulullah Saw untuk menyampaikan kepada seluruh umat manusia sebagai objek dakwah Nabi Saw.

Adapun isi perintah tersebut adalah pernyataan bahwa Tuhan yang ditanyakan mereka adalah Allah yang Ahad. Kata Ahad sendiri artinya berbeda dengan wahid. Ahad artinya “tunggal”, “tidak lebih dari satu” dan “tidak terbilang”.

Ia senantiasa sendiri dan tidak mungkin bersama yang lain. Kata Ahad sendiri merupakan istilah untuk menegaskan keberadaan yang lain. Ahad juga bisa berarti tidak ada yang sebanding. Sedangkan kata wahid merupakan bilangan pertama dalam hitungan yang artinya “satu”.

Tatkala disebutkan wahid (satu), ada kemungkinan berbilang menjadi dua atau tiga. Sehingga ayat ini kita pahami bahwa Allah itu tunggal, tidak berbilang sebagaimana keyakinan orang-orang di luar Islam.

Kata Allah dalam Al Quran selalu disandingkan dengan kata Ahad. Berbeda tatkala Allah mewakilkan diri-Nya dengan kata Ilah (Tuhan) yang selalu bersandingan dengan kata wahid. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan manusia di dunia ini akan adanya Tuhan itu tidak satu, tetapi berbilang, tergantung keyakinannya masing-masing.

Ayat kedua merupakan khabar (yang menerangkan) dari mubtada’ (yang diterangkan) pada ayat pertama, bahwa kata Allah di ayat kedua bersifat Al Samad.

Kata ini berasal dari kata kerja samida-yasmadu yang artinya “memadatkan”, maka al samad memiliki arti “sesuatu yang padat, tidak berongga, tidak dapat dibagi-bagi”. Menurut para mufasir , kata Al Samad sendiri secara kebahasaan artinya “menuju, sengaja” dan bisa juga diartikan “berpegang pada sesuatu”.

Ayat ketiga dan keempat merupakan tafsir (penjelasan) terhadap ayat kedua. Bahwa Allah adalah lam yalid wa lam yulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad (‘Tidak melahirkan dan juga tidak dilahirkan”, dan “tidak ada bagi Allah sesuatu pun yang setara (sebanding) dengan dirinya”). Dalam istilah disiplin ilmu Al Quran, hal ini dikenal dengan Tafsir Al Quran bi Al Quran. Maksudnya ayat Al Quran ditafsirkan (dijelaskan) oleh ayat Al Quran yang lainnya.

Tafsir Ilmiah Terdahulu

Ibnu Abbas melalui riwayat Ikrimah mengatakan bahwa Al Samad adalah (bermuaranya segala kebutuhan dan masalah makhluk kepada-Nya”. Para ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa Al Samad adalah “zat yang tidak ada celah pada dirinya atau tidak berlubang (al musmat)”. Dinding yang tak berjendela disebut ha’it musmat. Kuda yang tidak bercampur dengan warna lain disebut fars musmat (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, h. 575).

Mufasir termasyhur Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Al Tabari dalam buku tafsirnya, Jami’ Al I Bayan ‘an Ta’wil Al Quran (sering disebut tafsir Tabari saja), menegaskan bahwa arti Al Samad adalah la jaufa lahu (”Tiada rongga bagi-Nya”).

Dalam Simfoni Dzikir Jagat Raya, Tono Saksono, memberikan penjelasan bahwa ayat, “Katakanlah: Dia-lah Allah yang Maha Tungal; Allah adalah tumpuan segala harapan; Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya” (QS Al Ikhlas [112]: 1-4).

Dalam pemahaman Islam, Yesus Kristus (Islam mengenalnya dengan nama Rasul Isa-Al Masih a.s.), seperti juga Muhammad, meskipun manusia suci, adalah manusia biasa sebagai makhluk yang merupakan utusan Allah Swt.

Umat Islam wajib mengimani Isa sebagai Rasulullah, yang tanpa keyakinan tersebut, maka gugurlah nilai keimanannya sebagai ummat Islam karena melanggar rukun iman.

Namun memercayai Isa sebagai Tuhan yang kekal (divine) atau sebagai anak Tuhan adalah merupakan dosa besar (baca:musyrik) karena mempersekutukan Allah dengan mempersamakan-Nya dengan makhluk-Nya (Simfoni Dzikir Jagat Raya, 2006, Cet.1).

Menurut Agus Purwanto, karena segala sesuatu berasal dari Yang Satu, Pikiran Yang Satu, dan Tindakan Yang Satu, maka di balik kompleksitas ciptaan ini pasti berlaku semacam prinsip kesederhanaan.

Redaksi “lebih kecil, seukuran, dan lebih besar dari zarah” secara sederhana berangkali menunjuk kepada keberadaan tingkatan atau hirerarki ciptaan itu sendiri. Artinya, salah satu sifat ciptaan adalah hierarkis (Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi Al Quran yang terlupakan, penerbit Mizan, h. 365).

Tafsir Ilmiah Salman

Antara Allah dan Ilah

Untuk menelusuri asal-usul istilah Allah sebagai nama Tuhan, kita harus menggali bahasa Mesopotamia Purba, sebab bangsa Arab merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s yang berasal dari Mesopotamia.

Tuhan dalam bahasa Mesopotamia disebut El atau Il (nama negeri Babilonia dari Bab-El atau Bab-Il berarti “Pintu Tuhan”. Anak cucu Nabi Ibrahim kelak, yaitu bangsa Ibrani dan bangsa Arab, memodifikasi nama ini dengan tambahan Elah dan Ilah. Ibrahim sendiri bukan bangsa Ibrani ataupun Arab, namun Ia adalah bapak dari dua bangsa tersebut.

Nama yang terakhir ini kemudian diberi kata sandang (Isim makrifat/artikel definitive) Al-, menjadi Al-ilah atau Allah. Kata Allah ini dalam konsensus bahasa Arab merupakan isim muzakar (menunjukkan maskulinitas), sedangkan ciptaannya yaitu langit dan bumi, juga ruh menggunakan isim muannas (menunjukkan feminitas).

Istilah El dan Il sebagai nama Tuhan masih dijumpai dalam bahasa Ibrani dan Arab pada nama-nama Gabriel (Jibril), Michael (Mikail), Yishma’el (Ismail), Yisrael (Israil), dan sebagainya.

Jadi, orang-orang Arab sebelum Islam sudah menggunakan istilah Allah untuk menamai Sang Khaliq yang menciptakan langit dan bumi. Hal ini diterangkan dalam surah Al Ankabut: 61, wa lain sa’altahum wa al qomar, khalaqa al samawati wa al arda wa sakhkhara al syamsa wa al qamar la yaqulunna Allah, fa anna yu’fakun (“Dan sekiranya engkau menanyai mereka: siapa yang menciptakan langit dan bumi serta menyediakan matahari dan bulan, mereka pasti mengatakan Allah, maka betapa mereka dipalingkan”). Akan tetapi, orang-orang Arab itu mempersekutukan Allah dengan berbagai Ilah yang lain.

Itulah sebabnya ayat pertama ini menggunakan kata Ahad. “Esa”, yang betul-betul satu, yang harus di’satu’kan, yang merupakan ‘satu-satunya’, bukan urutan bilangan. Bukan sekadar wahid atau “satu” sebagai nama bilangan.

Maksud bahwa “Ahad bukan bilangan” artinya Allah bukan merupakan hasil dari ½ + ½ atau dengan kata lain bukan hasil koalisi. Bukan pula bermakna 2-1 yang merupakan hasil dari perebutan kekuasaan.

Jadi “Allah Ahad” berarti Allah itu satu secara mutlak dalam segala hal: Esa dalam wujud-Nya, Esa dalam sifat-Nya, dan Esa dalam karya-Nya. Ada perbedaan antara kata Ahad dengan wahid.

Kata Ahad sendiri merupakan istilah untuk menegasikan keberadaan yang lain. Ahad juga bisa berarti tidak ada yang sebanding. Sedangkan kata wahid merupakan bilangan pertama dalam hitungan yang artinya “satu”.

Tatkala disebutkan wahid (satu), ada kemungkinan berbilang menjadi dua atau tiga. Sehingga dari ayat ini kita dapat memahami bahwa Allah itu tunggal, tidak berbilang sebagaimana keyakianan orang-orang di luar Islam.

Kata Allah dalam Al Quran selalu disandingkan dengan kata Ahad. Berbeda tatkala Allah mewakilkan diri-Nya dengan kata Ilah (Tuhan) yang selalu bersandingan dengan kata wahid. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan manusia di dunia ini akan adanya Tuhan tidak hanya satu, tetapi berbilang, tergantung keyakinan masing-masing orang.

Padat, Tanpa Rongga, Tidak Butuh Diisi

Tafsir Al Samad pada umumnya adalah “tempat bergantung”. Tafsiran tesebut muncul dari (salah satu) makna kata Al Samad yaitu menuju, sengaja dan bisa juga diartikan berpegang pada sesuatu.

Al Samad pada ayat kedua ini lebih tepat diletakkan sebagai penjabaran dai sifat Ahad pada ayat pertama. Allah itu Esa secara mutlak. Keesaan Allah itu sedemikian “padat”nya sehingga tidak dapat dibagi-bagi lagi.

Berbeda dengan ajaran Nashrani yang juga beriman kepada Tuhan Yang Esa, tetapi membagi-baginya menjadi “Tiga Pribadi” (Trinitas): Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Ruh Kudus.

Juga bukan seperti ajaran Hindu yang mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa, tetapi membagi-baginya menjadi ‘Tiga Wajah’ (Trimurti): Tuhan Pencipta (Brahma), Tuhan Pemelihara (Wisnu)dan Tuhan Pembinasa (Syiwa).

Penafsiran lainnya bahwa Al Samad menafsirkan kata Ahad pada ayat sebelumnya. Al samad secara fisika dapat ditafsirkan sebagai “bebas dari ruang dan waktu”. Segala sesuatu di dalam semesta ini berpasang-pasangan. Setiap hal berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan namun saling membutuhkan dan melengkapi.

Tidak demikian halnya dengan Allah yang bersifat Ahad. Karena Dia tungggal, hanya ada satu-satunya, tidak memiliki pasangan, tidak memiliki kekurangan, maka Dia tidak membutuhkan apa pun. “Padat” atau tidak berongga dengan demikian bisa bermakna “tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk mengisi”.

Tanpa Padanan, Tanpa Bandingan

Ini adalah sebuah penegasan bahwa Allah bersifat Ahad (Esa) dan Samad (tak terbagi), maka jelas tidak pantas memunyai anak (meskipun dalam arti kiasan), dan Dia tidaklah diperanakkan oleh sesuatu!

Ayat ketiga ini menegaskan sesatnya ajaran Nasrani yang menganggap adanya Tuhan Bapa (Allah), Tuhan anak (Isa Al Masih, yang sering mereka latinkan menjadi ‘Yesus Kristis’), dan Tuhan Ruh kudus (Jibtil atau ‘Gabriel’) sebagaimana tercamtum dalam surah Al Maidah: 73

Laqad kafara al-lazina qalu inna Allaja salisu salasah. Wa ma min ilahin illa ilahun wahid (“Sungguh benar-benar kafir mereka yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah itu ketiga dari yang tiga’, padahal tiada Tuhan selain Tuhan Yang Esa”).

Sekarang yang mengatakan bahwa Lata, ‘Uzza dan Manat adalah anak-anak perempuan Allah, sebagaimana disindirkan Allah dalam Surah Al Najm: 19-21,

Afara’aitumu al lata wa al uzza wa manata al salisata al ukhra wa lahu al unsa (“Maka, apakah kamu menganggap Lata dan Uzza, serta manat yang ketiga lainnya, sehingga untuk kalian anak lelaki dan untuk-Nya anak perempuan?”).

Kesimpulan

Kesimpulan surah Al Ikhlas terletak pada ayat keempatnya. Tidak ada yang sekufu (sebanding) dengan Allah. Hal ini dijabarkan oleh Allah sendiri dalam Surah Al Isra’ ayat (111):

Wa qul al hamdu li Alahi al lazi lam yattakhiz walada, wa lam yakun lahu syarikun fi al mulk, wa lam yakun lahu waliyyun min al zull, wa kabbirurhu takbira (“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak pernah mengambil anak, dan tidaklah ada baginya sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidaklah perlu baginya penolong dari keterbatasan, serta agungkalah Dia seagung-agungnya.’”).

Wallahu a’lam bi alsawab.

 

Disalin dari Buku Tafsir Salman Tafsir Ilmiah

 

 

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta Zamhari

Gambar Gravatar
  Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *