Demam Berdarah di kota Yogyakarta Turun Sampai 77.1 Persen, Ini Alasannya

oleh -81 Dilihat

Demam Berdarah di kota Yogyakarta Turun Sampai 77.1 Persen, Ini Alasannya

Nyamuk Demam Berdarah (Gambar: Pixabay/Mikadago)

Penyakit yang diakibatkan oleh nyamuk dengan genus Aedes Aegypti yaitu Demam Berdarah sudah menjadi penyakit endemik di Indonesia. Terutama di kota-kota besar yang tingkat kepadatannya tinggi, penyakit ini sering memakan korban sejak beberapa dekade lalu. Penyakit ini bisa menyebabkan fatalitas kematian tinggi, utamanya pada anak-anak.

Namun saat ini, ada harapan bahwa nyamuk jenis ini tidak lagi menjadi nyamuk yang membahayakan orang yang digigitnya. Studi yang dilakukan oleh World Mosquito Program telah membuahkan hasil di kota Yogyakarta dan Queensland Utara, Australia. Bahkan di Yogyakarta, penyakit ini sudah jauh berkurang dibandingkan dengan sebelumnya dan menyentuh efikasi sebesar 77.1%.

“Ini adalah kesuksesan besar untuk masyarakat Jogja”, kata Adi Utarini yang merupakan anggota World Mosquito Program dan pengajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. “Untuk waktu yang lama, masyarakat sangat takut secara sporadis, utamanya setiap (masuk) musim penghujan. Masih buruk, penyakit ini sering menyerang anak-anak, membuat tingkat kematian diantara anak-anak relatif tinggi”. Tambahnya seperti yang dikutip dari Science Alert (11/06/2021).

Demam Berdarah dan Bakteri Wolbachia sebagai Solusi

Pada dasarnya penyakit demam berdarah (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan dari virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti betina. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) penyakit ini menginfeksi 100-400 juta infeksi per tahun. Sedangkan, tingkat kematian akibat penyakit ini bisa mencapai 25.000 kasus per tahunnya di seluruh dunia.

Lalu, peneliti dari berbagai negara mencoba meneliti mengenai bagaimana untuk mengurangi dampak dari gigitan nyamuk ini. Singkatnya, peneliti menemukan bahwa bakteri bernama Wolbachia untuk mengurangi reproduksi virus pada nyamuk Aedes Aegypti betina.

Mungkin terdengar buruk mengingat Wolbachia juga merupakan sebuah bakteri. Namun, di alam liar bakteri ini ternyata cukup umum ditemui pada spesies serangga.

Bahkan para peneliti menemukan bahwa ketika bakteri Wolbachia ini menginfeksi nyamuk, dapat menurunkan reproduksi virus. Hal ini sudah diujicobakan di Fiji dan Brazil dan kabarnya bekerja dengan baik. Bakteri Wolbachia ini juga bekerja dengan baik untuk memerangi penyakit seperti virus Zika, demam kuning dan chikungunya.

Percobaan dan Pengujian

Nah atas dasar penelitian itulah peneliti yang tergabung dalam World Mosquito Program memanfaatkannya untuk diaplikasikan di Australia dan Indonesia. Kedua negara ini jelasnya setiap tahun dipusingkan dengan penyakit yang sudah jadi endemik ini.

Antara bulan Maret dan Desember 2017, para peneliti menyebar nyamuk yang sudah diinfeksi bakteri Wolbachia ini di kota Yogyakarta. Ada sekitar 24 klaster pengujian yang tersebar di seluruh kota yang 12 klaster diantaranya digunakan sebagai pengontrol.

Lalu para peneliti melakukan pengujian terhadap 8.144 partisipan yang hasilnya hanya 2.3% atau 67 orang saja yang terinfeksi demam berdarah. Sementara pada klaster pengontrol ditemui 9.4% atau 318 kasus yang diketahui terinfeksi demam berdarah. Oleh karena itulah disimpulkan bahwa nyamuk Aedes Aegypti yang sudah diinfeksi bakteri Wolbachia mampu menurunkan demam berdarah sampai dengan 77.1%.

Studi ini juga menemukan bahwa terdapat sekitar 86% dari orang yang terinfeksi hanya mengalami demam di rumah sakit. Rinciannya adalah 13 orang dirawat intensif di rumah sakit sementara 102 orang dirawat inap karena demam. Hasil ini membawa harapan bahwa angka demam berdarah bisa semakin berkurang berkat nyamuk Aedes Aegypti yang sudah diinfeksi bakteri Wolbachia.

 

Sumber: Science Alert

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.