Belajar Bahasa Jawa dan Artinya [Mudah Bisa Langsung Dipraktikkan!]

oleh -18.415 views
Blangkon Belajar Bahasa Jawa
Medium.com

JOGJA POST – Namanya juga bahasa Jawa, sudah pasti yang menggunakannya adalah penduduk Jawa. Suku jawa adalah penduduk yang mendiami pulau jawa yaitu Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan sekitar pesisir dekat Jawa Barat.

Jika di daerah Kalimantan saja tak asing dengan bahasa Jawa, itu berarti banyak wilayahnya yang sudah didiami oleh penduduk Jawa. Ada juga imigran suku Jawa yang merantau ke luar negeri, berkumpul dengan sesama suku Jawa dan membangun pemukiman dengan nama kampung Jawa.

Atau mungkin kita tidak asing dengan lagu dangdut yang tengah ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Sebut saja lagu-lagu yang dinyanyikan oleh pedangdut Via Valen dengan judul “Sayang” nya itu. Saking viralnya lagu tersebut, hampir seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia pandai menyanyikan syairnya meskipun beberapa liriknya bertuliskan bahasa Jawa.

Pernahkah Anda mendengar guyonan ala Srimulat atau pelawak Sule yang sering mengatakan bahasa dengan logat Jawa. Atau mungkin Anda yang penggemar youtube pasti tak sulit menemukan lagu-lagu berlirik Jawa yang sukses dinyanyikan oleh orang barat.

Saking bumingnya lagu Jawa, seharusnya kita patut berbangga karena salah satu kearifan lokal yang dimiliki negeri kita dapat popular dan diterima banyak masyarakat. Tak heran, kamus bahasa Jawa menjadi salah satu hal yang banyak dicari bagi para turis ataupun pelancong dari luar daerah.

Jadi jika berbicara tentang lagu berlirik bahasa Jawa, mungkin seakan tidak ada habisnya. Belum lagi para penggemar musik berdialek Jawa.

Belajar Bahasa Jawa dan Artinya

Blangkon Jogjakarta
yadblangkonjogja.wordpress.com

Sekilas tentang bahasa Jawa yang wajib diketahui para pembelajar:

Pemakaian tutur bahasa Jawa senantiasa memperhatikan siapa lawan yang diajak berbicara serta kondisi dimana percakapan tersebut tengah berlangsung. Macam-macam tutur bahasa umumnya terdiri dari krama inggil, krama madya, dan ngoko.

Selain itu juga ada tutur bahasa jawa khusus seperti bahasa kedhaton, bahasa keraton, bahasa kawi atau bahasa Jawa Kuno. Tutur bahasa jawa khusu ini biasanya dipakai dalam tutur seni sastra atau pentas seni, wayang kulit, ludruk bahkan ketoprak.

Tutur yang sering digunakan ketika mengumpat atau marah adalah kelas bahasa yang lebih kasar ketimbang tutur ngoko. Contohnya pada kata “makan”, tutur kelas ini menjadi “mbadog” yang artinya makan.

Bahasa ngoko dipakai untuk penutur yang ingin berkomunikasi dengan orang lain yang usianya setara, teman akrab atau dibawahnya. Bahasa krama madya dipakai untuk orang yang usianya setara atau yang lebih tinggi kedudukan. Sedang bahasa krama inggil dipakai untuk menghormati orang yang kelasnya lebih tinggi atau paling terhormat.

Pada prinsipnya, mempelajari bahasa jawa tentu harus memahami sistem kelas dalam bertutur. Serta disesuaikan pula dengan akar budaya, tingkah lagu bahkan tradisi yang berlaku di lingkungan masyarakat jawa. Banyak orang jawa yang sampai saat ini masih memegang tradisi bahwa orang tua, orang yang lebih tua atau mereka yang dituakan harus dihormati.

Namun bukan berarti mereka yang usianya jauh lebih muda harus mendapat perlakuan berupa kata-kata kasar. Jika perlu, banyak orang dewasa yang mengajarkan kepada anak-anak dengan menggunakan bahasa krama supaya mereka paham dan dapat menggunakannya untuk menghormati orang lain.

Masih dalam hal serupa, pemakaian tutur bahasa jawa dalam kondisi formal tidak harus memakai bahasa yang semua kalimat per kalimat berbahasa kromo atau inggil. Kita pun tidak harus merasa “berdosa” karena menggunakan bahasa jawa campuran kromo dan ngoko.

Beberapa wilayah sudah pasti memiliki dialek yang berbeda meski purabahannya hanya sedikit misalny dialek Suroboyonan, Jawa Timur dengan dialek daerah masyarakat Jawa Tengah. Bahkan satu propinsipun juga belum tentu memiliki dialek yang serupa. Sebut saja dialek lokal orang Yogyakarta dengan Solo yang khas. Atau dialek orang Banyumas dengan Pekalongan, dialek orang Madiun dengan Suroboyo dan sebagainya.

Mengenal Kata Tanya Bahasa Jawa:

Ketika melakukan percakapan atau komunikasi dengan orang lain, tentu Anda sudah mengenal tentang teknik membunyikan vocal dan konsonan bahasa Jawa. Dibawah ini pembahasan tentang macam-macam tanda tanya dalam bahasa jawa yang bisa Anda pelajari.

1. Apa…?
Adalah kata tanya yang dipakai untuk menyatakan sesuatu. Contoh “apa kwi sing mbok gawe?” (apa yang kamu bawa?)
2. Sapa…?
Adalah kata tanya untuk menyatakan orang (subjek). Contoh “sapa jenenge adikmu iku?” (siapa namanya adik mu itu?)
3. Piye…?
Adalah kata tanya untuk menyatakan keadaan seseorang. Contoh “piye kabarmu lan keluarga?” (bagaimana kabarmu dan keluarga?)
4. Pira…?
Adalah kata tanya menyatakan banyaknya jumlah baik harga atau benda. Contoh “pira regane buku kuwi?” (berapa harganya buku itu?)
5. Kapan…?
Adalah kata tanya yang menyatakan waktu. Contoh “kapan tanggal peringatan Agustusan?” (kapan tanggan peringatan (bulan) Agustus-an?)
6. Kena apa….?
Adalah kata tanya yang menyatakan adanya suatu alasan. Contoh “dek wingi kowe kena apa?” (kemaren kamu ada apa?)

Mengenal dan Memahami Arti Kata Bahasa Jawa:

Menurut buku pepak bahasa Jawa menurut unggah-unggahan, bahasa jawa dipecah menjadi beberapa tingkatan. Yaitu bahasa ngoko, bahasa madya, dan bahasa krama. Ketiga tingkatan ini masih dipecah menjadi tinggakat berbeda yaitu;

– Bahasa ngoko terdiri dari ngoko lugu dan ngoko alus/andha,
– Bahasa madya terdiri dari madya ngoko, madyantara, dan madya krama,
– Bahasa krama terdiri dari krama lugu (kramantara), mudha krama, wreda krama, krama inggil, krama desa, dan basa kedhaton

1. Membandingkan ukara / kalimat sesuai objek atau orang yang diajak berbicara. Disini menggunakan kata “makan” yang dalam bahasa Jawa bisa “dhahar”, “nedha” atau “mangan”.

– Bapak Kyai Abdul Shomat dhahar (Bapak Kyai Abdul Shomat makan), menggunakan kromo inggil “dhahar”
– Budhe saha pakdhe dhahar (Bibi dan paman makan), menggunakan kromo inggil “kaliyan”
– Mas Budi kaliyan Mas Nanang nedha (Mas Budi dan mas Nanag makan), menggunakan kromo madya “kalihan”
– Kuli kaliyan Santi nedha (Saya dan Santi makan), menggunakan kromo madya “kalihan”
– Ponakanku Ika lan Ita mangan sego (Keponakan saya, Ika dan Ita makan nasi), menggunakan ngoko “lan”, dan “mangan”
– Wedusku mangan godhong telo (Kambingku makan daun ketela), menggunakan ngoko “mangan”

2. Membandingkan tingkatan bahasa Jawa antara basaha Ngoko (kasar) dengan bahasa Krama (halus)
Bahasa jawa memang mengenal adanya tingkatan bahasa yakni perbedaan bahasa antar kelas social dalam masyarakat, stratifikasi social berdasarkan usia, jabatan atau kedudukan orang tersebut.

Yang membuat bahasa jawa harus membedakan tingkatan bahasa karena orang jawa sangat memperhatikan ungah-ungguh atau tata krama dalam berbicara.

Ngoko Lugu

a. Bahasa Ngoko dipakai oleh penutur yang usianya lebih muda, sederajat, seumuran atau memiliki keakraban secara emosional kepada lawan bicara. Bisa digunakan untuk mengungkapkan rasa terima kasih alias bahasa Jawa terima kasih. Bahasa ngoko dibedakan menjadi dua yaitu ngoko lugu dan ngoko alus. Bahasa Ngoko hanya membedakan kata ganti orang (jejer) dan kata kerja (waseso).

Ngoko Lugu

– Aku lagi mangan sego goreng (saya lagi makan nasi goring), menggunakan jejer “aku”, dan waseso “mangan”.
– Pak dhe lunga neng Jatim Park numpak bis (paman pergi ke Jatim Park naik bis), menggunakan jejer “Pak dhe” dan waseso “numpak”. Kalimat ini juga bisa digunakan

Ngoko alus:
– Ibu lagi dhahar sega goreng (Ibu lagi makan nasi goring), menggunakan jejer “aku” dan waseso “dhahar”. Mengapa tidak memakai kata “mangan” ? sebab subjek (jejer) yang di sebutkan adalah orang tua, atau orang yang usianya lebih tua

– Pak dhe tindak ten Jatim Park numpak bis (paman pergi ke Jatim Park naik bis), menggunakan jejer “pak dhe” dan waseso “tindak”. Menga waseso tidak menggunakan kata “numpak”? karena si penutur sedang menghormati lawan bicara. Menggunakan leksikon ngoko dan netra, atau krama inggil dan andhap.

Contoh kalimat lain bahasa ngoko:

1. Kowe ojo mangan disik! (kamu jangan makan dulu!)
2. Kapan kowe arep bali? (kapan kamu mau pulang?)
3. Wis suwi ora ketemu kowe (sudah lama tidak bertemu dengan mu)
4. Budi lunga menyang pasar (Budi pergi ke pasar)
5. Adekku lagi turu ing kamar sebelah (adikku lagi tidur di kamar sebelah)
6. Yuli tuku buku ing koperasi sekolah (Yuli beli buku di koperasi sekolah)
7. Indri lagi nyapu latar kelas limo (Indri sedang menyapu halaman kelas lima)
8. Ibu tindak menyang pasar (ibu pergi ke pasar)
9. Bapak tidak menyang kantor (bapak pergi ke kantor)
10. Pak dhe kondur saking omahku (pak dhe pulang dari rumahku)

Contoh percakapan bahasa ngoko:

Percakapan 1

Doni: Ridwan piye kabare? (Ridwan bagaimana kabarnya?
Ridwan: apik. La kowe piye? (baik. Kalo kamu?)
Doni: aku ya apik. Suwi ora ketemu karo kowe. Rasane kangen karo kanca (aku juga baik. Sudah lama tak bertemu. Rasanya kangen sama teman)
Ridwan: saiki kowe wis nyambut gawe apa durung Don? (sekarang kamu sudah bekerja apa belum Don?)
Doni : aku wes kerjo neng PT Tri Sakti, Wan. La kowe op owes kerjo? (aku sudah bekerja di PT Trisakti, Wan. Kalo kamu apa sudah kerja?)
Ridwan: durung Don, saiki aku isih nganggur neng omah karo ngewangi ibu dodol klambi (belum Don, sekarang saya masih menganggur di rumah sambil membantu ibu berjualan baju)
Doni: oalah. Yo mugo-mugo ndang oleh gawean (oh. Ya semoga bisa cepat dapat kerja)
Ridwan: iyo suwun Don!

Percakapan 2

Nina: Hai Sita? (hai Sita?)
Sita: Hai Nina? (hai Nina?)
Nina: kowe lagi ngapa? (kamu kagi ngapain?)
Sita: aku lagi nggarap kembang kertas ki. Aku iso njalok tolong Na? (saya lagi mengerjakan bunga kertas ni. Aku bisa minta tolong Na?
Nina: io. Opo sing iso tak rewangi? (Iya. Apa yang bisa saya bantu?)
Sita: aku njaluk tulung gawekno kembang songko kain perca, iso ora? (aku njaluk tulung bikinkan kembang dari kain perca. Bisa apa tidak?)
Nina: Ya. Iki kembang percane! (Ya. Ini bunga percanya!)
Sita: Matur nuwun ya (terimakasih ya)
Nina: podho-podo Sit (sama-sama Sit)

Krama Madya/Lugu

b. Bahasa krama digunakan untuk menghormati lawan bicara, usiannya lebih tua, orang dewasa, atau memiliki kedudukan lebih tinggi baik pangkat, jabatan atau pekerjaan. Bahasa krama juga dibedakan menjadi dua diantaranya krama lugu (madya) yaitu bahasa krama yang sedikit kasar dan krama inggil, bahasa krama yang sangat halus. Yang membedakan keduanya juga karena adanya kata ganti orang (jejer) dan kata kerja (waseso).

Krama Madya/Lugu

– Kulo nedha sekul goreng (Saya makan nasi goreng), memakai jejer “kulo” dan waseso “nedha”. Krama lugu dari kata makan adalah “nedha”.
– bu dhe kesah dateng Jatim Park (bu dhe pergi ke Jatim Park), memakai jejer “bu dhe” dan waseso “kesah”. Krama lugu dari kata pergi adalah “kesah” dengan subjek yang disinggung adalah pak dhe (yang lebih tua).
Krama inggil
– Kawulo dhahar sekul goreng (saya makan nasi goreng), memakai jejer “kawulo” dan waseso “dhahar”. Krama inggil menggunakan bahasa baik jejer atau waseso dengan kosakata lebih halus.
– Bu dhe tindak dateng Jatim Park (bu dhe pergi ke Jatim Park), memakai jejer “bu dhe” dan waseso “tindak”

Contoh kalimat lain bahasa krama:

1. Bapak tindak dateng Jakarta dinten Sabtu (bapak baru tiba dari Jakarta hari Sabtu)
2. Pak Rudi nembe mucal kelas sekawan (pak Rudi baru mengajar kelas empat)
3. Bu Sohi mundhut sepatu (bu sohi membeli sepatu)
4. Eyang kakung nembe siram (kakeh baru mandi)
5. Buku kula dipun asta Bu guru (buku saya dibawa bu guru)
6. Kulo tumut bapak dhateng peken (saya bersama bapak ke pasar)
7. Lastri kala wau tumbas sepatu (Lastri tadi beli sepatu)
8. Punapa bud he sampun dahar? (apakah bud he sudah makan?)
9. Sampeyan tumbas gendis tigang kilo (Anda beli gula 3 kilo)
10. Panjenengan sampun nginum nopo dereng? (Anda sudah minum apa belom?)

Contoh percakapan bahasa krama:

Percakapan 1

Bayu: panjenengan nopo sampun nyambut damelaken PR dereng? (kamu apa sudah mengerjakan PR?)
Rani: dereng. Panjenengan nopo inggih sampun? (belum. Kamu apa ya sudah?)
Bayu: dalem ugi dereng (belum juga)
Rani: panejenengan kersa mboten mangke dalu gegulang kelompok. Mangke sedoyo nyambut damelaken tugas punika sareng-sareng. (kamu mau tidak nanti malam kerja kelompo. Nanti semuanya mengerjakan tugas bersama-sama)
Bayu: Nuwun inggih (iya)

Percakapan 2

Budi: sugeng enjang bapak Niko, badhe tindak pundhi? (selamat pagi bapak Niko, mau pergi kemana?)
Niko: bade sowan dateng dalem Pak RT (mau pergi ke rumahnya Pak RT)
Budi: wonten urusan menopo? (ada urusan apa?)
Niko: badhe ngurus surat ijin bakti sosial (mau mengurus surat ijin bakti sosial)
Budi: dinten menopo niku? (hari apa itu?)
Niko: yen mboten wonten alangan benjing dinten Sabtu (kalo tidak ada halangan besok hari Sabtu

Kromo Inggil

Contoh teks Kromo Inggil:

“Nalika jaman jahiliyah kawontanipun manungsa punika sama mboten mangartos marang keadilan, sama mboten mangertos kalian peri kemanusiaan, sama remen zina, sama remen ngombe arak lan sapanunagalaipun. Ananging sabakdanipun nabi Muhammad lahir ing alam dunya, sedaya pedamelan ingkang awon dipungantos kalian pedaleman ingkang sarwa sae lan sarwa nyenengaken, lan sesuai kalian qudrat manungsa.”

Artinya: Ketika jaman jahiliya keadaan manusi itu sama belum mengerti keadilan, belum mengerti tentang kemanusiaan, suka berzina, suka minum arak dan lain sebagainya. Tetapi setelah nabi Muhammad lahir di dunia, semua pekerjaan yang kalian sukai, pekerjaan yang baik dan menyenangkan harus sesuai dengan qodrat sebagai manusia.

Belajar bahasa jawa memang sebagian kecil dari usaha kita agar tetap mampu melestarikan kultur dan adat khususnya dalam hal berkomunikasi. Dan demikian pembahasan mengenai belajar Bahasa Jawa dan artinya. Pembahasan kali ini menyinggung seputar bagaimana cara memakai bahasa Jawa sesuai tingkatan. Dilengkapi pula dengan contoh dialog bahasa Jawa. Semoga pembahasan ini bisa banyak bermanfaat.

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta Jogja Post

Gambar Gravatar
Berita Jogja Hari Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *